Mudah Gelisah, Apakah Termasuk Tanda Skizofrenia?

Akhir-akhir ini, terdapat beberapa kasus klien datang ke dokter umum dengan keluhan: dada berdegup kencang, napas pendek, dan mudah gelisah karena terus-menerus memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Setelah diperiksa, ternyata tidak ditemukan kelainan dalam pemeriksaan fisik, sehingga diduga gejala penyakit fisik yang muncul disebabkan oleh faktor psikologis. Dalam dunia kesehatan, kondisi ini kita kenal dengan istilah psikosomatis. Psikosomatis merupakan gangguan yang umum dijumpai di masyarakat, yakni adanya tanda-tanda keluhan penyakit dari sisi fisik, namun masih sedikit yang menyadari bahwa penyebabnya ternyata adalah kondisi psikologis.

Salah satu gejala yang dirasakan oleh klien ketika mengalami psikosomatis ini adalah mudah gelisah. Ketika berhadapan dengan dokter pun, tidak jarang klien diberikan obat penenang yang bertujuan untuk meminimalisir rasa gelisah yang sedang dialami. Kehadiran obat sebagai penyembuh cenderung membuat klien berpikir apakah dirinya mengalami ketidaknormalan atau terganggu jiwanya. Banyak klien yang bertanya, “Apakah mudah gelisah termasuk tanda saya mengalami gangguan jiwa?”

Istilah “gangguan jiwa” merupakan kata yang sering digunakan oleh orang awam dalam merujuk pada “skizofrenia”. Menyamakan gangguan jiwa dengan skizofrenia merupakan hal yang kurang tepat karena gangguan jiwa adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan gangguan mental secara umum, sedangkan skizofrenia hanyalah salah satu bentuk dari gangguan jiwa. Kekhawatiran atas mengalami gangguan kejiwaan didorong oleh kesan negatif dari banyak orang yang memandang skizofrenia seperti orang gila yang sering kita jumpai di pinggir jalan. Sampai saat ini, stigma tersebut masih melekat dalam budaya masyarakat kita. 

Sebenarnya, orang yang mengalami skizofrenia pada dasarnya memiliki hambatan dalam memproses pikiran, perasaan, dan perilaku—ketiga aspek tersebut tidak terintegrasi dengan baik. Dengan demikian, pasien skizofrenia tidak dapat menggunakan pikiran mereka secara optimal dalam mengelola perasaan dan perilakunya, sehingga ia tidak dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan. Itulah sebabnya mengapa individu dengan skizofrenia seringkali terlihat melakukan perbuatan yang dipandang aneh oleh orang lain pada umumnya.

Sementara itu, seseorang yang mudah gelisah cenderung terkendala dalam mengelola proses berpikirnya yang membuat ia mudah panik atau khawatir terhadap hal-hal yang sudah atau mungkin belum terjadi. Kekhawatiran tersebutlah yang memengaruhi kondisi fisiknya, sehingga kemudian menunjukkan keluhan-keluhan fisik sebagai bentuk gangguan psikosomatis. Obat penenang yang diberikan dokter untuk mengurangi rasa gelisah tentunya sangat berbeda dengan obat yang diberikan kepada pasien dengan skizofrenia.

Oleh karena itu, seseorang yang mudah gelisah tidak dapat serta-merta dikatakan mengalami skizofrenia. Penegakan diagnosis skizofrenia tidaklah mudah dan tidak cukup berdasarkan sumber-sumber di internet saja. Banyak gejala-gejala lain yang lebih kompleks dan berat yang dialami oleh seseorang dengan skizofrenia, salah satunya adalah mengalami halusinasi. Contoh halusinasi yaitu mendengar bisikan-bisikan berupa perintah atau ajakan untuk memukul, mengamuk, membakar, bahkan menyakiti diri sendiri. Gejala lainnya yang juga mencirikan skizofrenia adalah delusi atau waham, misalnya meyakini tanpa bukti yang jelas bahwa dirinya sedang diikuti atau diawasi oleh orang lain, dan meyakini diri sebagai seseorang yang berkuasa (presiden suatu negara asing).

Nah, mengingat kondisi mudah merasa gelisah dapat mengganggu keberlangsungan aktivitas kita sehari-hari, berikut beberapa hal yang dapat kamu lakukan agar tidak mudah gelisah.

 

  1. Berhenti mendiagnosis diri sendiri. Hindari memberikan diagnosis pada dirimu sendiri hanya berdasarkan sumber dari internet atau cerita dari orang lain yang mungkin memiliki kesamaan kasus.
  2. Berpikir positif. Apa yang kamu yakini tentang dirimu dapat sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan juga kesehatan mentalmu. Jika kamu meyakini hal yang positif, maka dirimu akan berkembang ke arah yang positif. Sebaliknya, jika kamu meyakini hal yang negatif, maka itu akan merugikan dirimu sendiri.
  3. Hiduplah untuk saat ini. Fokuskan energi maupun perhatianmu pada kehidupanmu saat ini. Lepaskan dan bebaskan pengalaman-pengalaman masa lalu, dan jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan yang sifatnya belum pasti.
  4. Tetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Apakah kamu memiliki nilai-nilai hidup yang kamu anggap penting? Upayakan dan perjuangkanlah nilai-nilai tersebut, karena ia mampu memberikan makna, arah, serta tujuan yang positif pada dirimu.
  5. Bersyukur. Maknai hal-hal yang terjadi setiap harinya sebagai hal positif yang diberikan Tuhan kepada kita. Dengan bersyukur, itu berarti kita melepaskan pikiran-pikiran negatif dan hanya terfokus pada hal-hal positif.
  6. Berbicara dengan diri sendiri. Ajak dirimu berbicara ketika merasa gelisah, dan katakan pada dirimu sendiri bahwa kamu baik-baik saja. Terus lakukan hingga kamu merasa bahwa seluruh energi positif hadir di dalam dirimu. Kamu pun lebih menerima dirimu apa adanya dan percaya pada dirimu sendiri.
 

Memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai suatu kondisi penyakit merupakan salah satu bentuk kepedulian kita terhadap kesehatan diri sendiri. Jika kamu ragu, kamu dapat berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog untuk mengonfirmasi pertanyaanmu.


Penulis: Mustika Permatahati, M.Psi., Psikolog

Editor: Diana Afifah (Tim Kariib)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *