Mencari Cinta Sejati? Yuk, Mulai dengan Melihat ke dalam Diri

Menjalani usia dewasa muda atau yang kerap kita kenal dengan istilah twentysomething memang menjadi periode usia yang sangat dinamis. Mengapa dinamis? Sebab di usia ini ada banyak sekali keputusan hidup yang perlu dibuat, yang masing-masingnya perlu dipersiapkan dengan pertimbangan yang matang. Lebih lanjut, setiap keputusan tersebut berikutnya akan menentukan jalan kehidupan kita ke depan. Oleh karena beragamnya keputusan yang harus dibuat, usia muda menjadi salah satu masa-masa yang genting sekaligus menantang. Dan tidak sedikit anak muda yang kemudian merasa agak khawatir, apakah keputusan yang ia tempuh adalah langkah terbaik dari pilihan yang dimilikinya.
Berdasarkan studi dan penelitian di bidang psikologi, berikut pengalaman praktik penulis sebagai psikolog, salah satu isu yang hangat menjadi bahan pikiran dan pertanyaan anak muda ialah seputar relasi dengan lawan jenis. Hal ini tidak mengherankan, sebab terjalinnya relasi yang hangat dengan lawan jenis, terlepas dari bagaimana relasi tersebut dinamakan, memang menjadi salah satu tugas perkembangan yang perlu dicapai oleh anak muda. Ketiadaan relasi yang bermakna dengan orang lain rentan menjurus kepada perasaan terkucilkan atau isolasi diri. Sebaliknya, relasi yang hangat dengan orang lain, khususnya lawan jenis, membawa rasa kebersamaan di dalam diri. Hanya saja, sering kali banyak anak muda yang cenderung berkutat pada terjalinnya suatu hubungan, tanpa mempertimbangkan prinsip dasar dari bagaimana hubungan tersebut perlu disikapi atau dibangun.
Tulisan ini didedikasikan untuk kamu yang berada di usia dewasa muda yang saat ini tidak terlibat dalam hubungan romantis dengan siapa pun, tetapi berencana untuk mulai menjalin hubungan tersebut. Tips yang akan penulis berikan merupakan rangkuman  dari sejumlah hasil penelitian pada ilmu psikologi, khususnya bidang hubungan interpersonal, yang telah disederhanakan agar menjadi praktis bagi para pembaca. Secara umum, terdapat lima aspek yang perlu menjadi perhatianmu sebelum mulai “menerjunkan” diri ke dalam relasi interpersonal, terlebih dengan lawan jenis. Yuk, kita lihat aspek apa sajakah itu?
  • Kenali dirimu
    Tahukan kamu bahwa ada banyak sekali pemuda yang belum benar-benar mengenal dirinya sendiri? Proses mengenal diri merupakan tugas yang sangat penting, yang hanya bisa dilakukan oleh masing-masing orang tanpa bisa dicampurtangani atau diintervensi oleh orang lain. Mengenal diri sendiri mencakup upaya untuk menggali pandangan atau posisimu dalam beberapa aspek kehidupan, seperti nilai (value), keyakinan (belief), minat, rencana mendatang, kesukaan dan ketidaksukaan, dan lain-lain. Upaya mengenali dirimu meliputi juga usaha dalam mengggali kelebihan dan kekuranganmu.
Terdengar mudah, tetapi pada praktiknya ternyata tidak segampang kedengarannya. Umumnya, tantangan dalam mengenal diri sendiri terletak pada fakta bahwa tidak ada satu jawaban atau pilihan yang paling benar, dan juga tidak ada pilihan yang salah. Sebagai contoh, jika kamu memiliki nilai (value) bahwa menekuni pendidikan adalah hal yang penting untukmu, maka dirimu perlu memperjuangkan terkait keberlangsungan pendidikanmu tersebut. Contoh lainnya ialah bagaimana kamu berharap akan bertemu dengan pasanganmu, apakah kamu ingin berpacaran dahulu, ingin saling mengenal tanpa status khusus yang disematkan, ingin bertaaruf, casual dating, open relationship, dan sebagainya. Tentunya, tidak semua orang akan memiliki nilai yang sama denganmu, sehingga perlu kamu ketahui bahwa belum tentu orang lain akan berpandangan serupa, termasuk gebetanmu, atau pun calon pasanganmu nantinya.
Lantas, apa hubungan antara mengenali diri sendiri dengan prospek untuk menemukan pasangan yang tepat? Berbagai hasil penelitian di dalam psikologi secara konsisten menunjukkan bahwa suatu hubungan akan lebih berhasil, bertahan lama, dan mendatangkan kepuasan bagi kedua pihak apabila kamu dan pasanganmu memiliki banyak kesamaan. Kesamaan seperti apa? Kesamaan dalam aspek diri yang tak terlihat (kasat mata) seperti nilai (value), keyakinan (belief), minat, rencana mendatang, kesukaan, dan ketidaksukaan tersebut. Sementara dalam aspek kelebihan dan kekurangan diri, idealnya sebagai pasangan dapat saling melengkapi satu sama lain. Nah, sejauh mana terdapat kesamaan dan potensi saling melengkapi tersebut akan lebih mudah dikenali dan dideteksi semenjak dini apabila sebelumnya kamu sangat mengenal diri kamu sendiri. 
  • Buatlah suatu kriteria mengenai pasangan yang kamu inginkan
    Apa itu kriteria pasangan? Kriteria pasangan ialah serangkaian karakteristik diri yang kamu harapkan hadir atau dimiliki oleh pasanganmu nantinya. Kriteria pasangan dapat mencakup hal yang tampak seperti karakteristik fisik, sifat, keyakinan, taraf pendidikan; berikut hal yang kasat mata seperti nilai, rencana masa depan, dan sebagainya.
Mengapa membuat kriteria? Salah satunya ialah untuk memudahkanmu dalam menakar atau “menyeleksi” para kenalanmu yang mungkin memiliki potensi untuk menjadi pasangan. Dengan adanya suatu kriteria di dalam benakmu, dirimu akan lebih terbantu untuk membaca dan menentukan bagaimana relasimu dengan orang tersebut dapat dikembangkan atau dibangun selanjutnya. Jika ada yang berpotensi menjadi pasangan karena memenuhi kriteriamu, maka dirimu memiliki landasan yang jelas bahwa hubungan tersebut tidak bisa hanya menjadi sekadar teman belaka.
Sebenarnya, membuat kriteria pasangan bukanlah suatu konsep yang baru di dalam dunia percintaan. Hanya saja, salah satu kesalahan minor yang kerap dilakukan, dengan dampak yang besar, ialah membuat kriteria pasangan tanpa berkaca kepada karakteristik diri kita sendiri. Tanpa adanya pemahaman yang baik tentang diri, maka kriteria pasangan yang kita susun rentan berisi sekumpulan sifat-sifat mulia yang hanya menyasar hal yang dangkal (superficial), dan tidak sesuai dengan kebutuhan diri sendiri. Bentuk yang sering terjadi ialah mendambakan pasangan yang cantik atau tampan, berpakaian dengan ciri tertentu, tanpa membuat standar terkait sifat diri. Contoh lainnya ialah menginginkan pasangan dari kalangan tertentu atau dengan pekerjaan tertentu, tanpa dilanjutkan dengan menyesuaikan apakah terdapat kesamaan nilai tentang masa depan dan peran gender. Akibatnya, kriteria yang dibuat tidak fit dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri.
Bentuk kesalahan lainnya ialah membuat kriteria pasangan yang lengkap, baik fisik dan kepribadian, namun justru kriteria tersebut sangat jauh dari keseharian kita. Sebagai contoh, menginginkan pasangan yang memahami isu perpolitikan global atau seorang aktivis, namun diri sendiri sama sekali tidak memahami isu tersebut dan pada dasarnya tidak memiliki ketertarikan pada hal itu. Contoh lainnya ialah menetapkan kriteria pasangan yakni pengusaha atau ilmuwan, namun diri sendiri tidak berkecimpung di dalamnya sehingga tidak benar-benar memahami mengapa menginginkan/membutuhkan pasangan dengan ciri tersebut selain karena citra yang dimilikinya.
Sampai di sini, mungkin sudah mulai dapat terasa bahwa menentukan kriteria pasangan merupakan suatu hal yang gampang-gampang-sulit, dan sangat berkaitan dengan seberapa jauh kita mengenal diri sendiri. Karena sulit dan belum tahu apa yang diinginkan atau diperlukannya, tidak sedikit anak muda yang kemudian meniadakan kriteria tersebut dengan menganut asas go with the flow sembari menantikan apakah ada chemistry yang terbangun dengan calon pasangannya. Sejatinya, chemistry tersebut hanyalah salah satu komponen dari cinta yang disebut passion, di mana dua komponen lainnya yang membuat cinta menjadi utuh—keintiman dan komitmen—sulit dijalin dalam hubungan dengan asas tersebut. Untuk itu, patah hati menjadi tidak terelakkan dan menjadi konsekuensi yang logis. Memiliki kriteria pasangan justru menjadi suatu shortcut yang membuka peluang bahwa keintiman dan komitmen dapat terjalin antara kedua belah pihak, di mana passion dapat ditumbuhkan kemudian. Dengan syarat, kriteria yang dibuat sesuai dengan kondisi diri sendiri.
Memang benar bahwa perkara pasangan ditentukan pula oleh takdir, tetapi bicara potensi dan kemungkinan-kemungkinan, tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat juga rasio di dalamnya. Kamu bisa menelusuri tentang law of similarity dan law of proximity dalam hubungan interpersonal yang mengulas aspek ini secara mendalam.
  • Kembangkan diri secara positif dan selaras dengan kriteria pasanganmu
    Dirimu juga perlu untuk senantiasa mengembangkan diri secara lebih positif sesuai dengan kacamatamu. Lagi-lagi, seberapa positif yang dimaksud akan kembali kepada penilaianmu sendiri, di mana tidak ada jawaban yang benar atau salah dalam hal ini. Kembali kepada langkah pertama tentang mengenali diri, maka dirimulah yang paling paham aspek diri apa yang masih perlu kamu kembangkan sesuai dengan rencanamu ke depan. 
Melanjutkan prinsip tentang law of similarity dan law of proximity dalam hubungan interpersonal, maka semakin penting untukmu menyusun kriteria pasangan yang memang selaras dengan aspirasi dirimu ke depan. Dan ketika kamu mengembangkan dirimu, maka hal tersebut juga sembari membuatmu semakin “dekat” dengan jejaring relasi yang berisikan orang-orang dengan karakteristik atau pandangan yang kurang lebih serupa denganmu. Dengan kata lain, pengembangan dirimu justru membantu untuk mengantarkan kepada network di mana orang-orang di dalamnya memiliki kesamaan karakteristik denganmu, dan juga sesuai dengan kriteria pasanganmu. Sebagai contoh, sering kita temukan pasangan yang keduanya sama-sama pegiat suatu topik seperti lingkungan hidup, meskipun berbeda profesi. Baik pria dan wanita, dengan histori dan pengalamannya masing-masing, sama-sama tiba pada kesadaran bahwa menjaga lingkungan itu penting. Keduanya lalu mengikuti kegiatan waktu luang yang serupa terkait dengan konservasi alam, dan kemudian waktu yang berbicara untuk keduanya saling menemukan satu sama lain. Sebagai catatan, tentunya kriteria lain seputar kecocokan kepribadian masih berperan, namun minimal dirimu sudah mengetahui dan berada pada jenis “kolam” yang tepat sesuai harapanmu.
Hal yang menarik dari poin ini ialah, sering ditemukan anak muda yang kesulitan dalam mendapatkan pasangan karena ruang relasinya cukup terbatas. Dalam istilah sehari-hari, mereka tidak tahu harus mencari calon pasangan ke mana dan bagaimana. Uraian di atas ingin memaparkan bahwa terdapat kemungkinan yang besar bahwa calon pasanganmu ada di “kolam” sebelah, dan saat ini dirimu perlu membantunya untuk juga menemukanmu.
  • Sayangi dirimu dengan mengembangkan kepribadian
    Beragam penelitian di bidang psikologi banyak menelusuri sifat-sifat apa saja yang secara universal diidamkan atau diharapkan oleh manusia ketika berinteraksi dengan orang lain. Beberapa sifat tersebut antara lain sifat jujur, terpercaya, dan kooperatif. Penelitian lain menunjukkan bahwa berinteraksi dengan sosok yang percaya diri secara umum terjalin lebih mudah dan terasa menyenangkan. Untuk itu, tidak ada salahnya bagimu untuk mengasah diri agar dapat menampilkan karakteristik-karakteristik serupa. Di samping persoalan pasangan, ciri diri tersebut akan sangat menunjangmu di dalam aktivitas kehidupan lainnya.
Jika sebelumnya bicara tentang kepribadian, maka termasuk di dalam kepribadian ialah topik presentasi diri (self presentation). Dalam hal ini, kamu dapat menyayangi dirimu sendiri dengan merawat apa yang sudah kamu miliki. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadopsi pola hidup yang sehat dengan memperhatikan pola tidur, makan, olahraga, dan aktivitas waktu luang yang bermanfaat untukmu. Juga perhatikan tampilan fisik dan bahasa tubuhmu, dengan mengaturnya sedemikian rupa untuk hadir semenarik mungkin sesuai dengan selera pribadi. Lagi-lagi, tidak ada satu kriteria yang benar atau salah dalam hal ini, karena pada dasarnya dirimulah yang paling tahu bagaimana suara hatimu berbicara akan hal ini. Yang perlu digarisbawahi ialah ketika muncul keraguan terkait presentasi diri (self presentation) karena mencemaskan penilaian orang lain, tulisan ini ingin menegaskan bahwa hapuslah pertimbangan soal komentar buruk orang lain; sebab menjadi tanggungjawabmu untuk mengusahakan yang terbaik bagi dirimu sendiri.
  • Belajar untuk mengelola emosi
    Keempat langkah sebelumnya akan dapat dijalani secara optimal dengan bantuan satu buah keterampilan diri, yakni keterampilan dalam mengelola emosi. Mengelola emosi tidak hanya meliputi rasa marah, tetapi juga bagaimana kita dapat mengatur kapan dan bagaimana kita mengekspresikan kesedihan, ketakutan, kecemasan, dan kesenangan yang kita alami. Lebih lanjut, menjadi percaya diri dengan mengelola perasaan malu yang tidak beralasan juga termasuk di dalamnya. Penelitian menunjukkan bahwa apabila kamu merasa “baik” secara emosional, kamu akan cenderung untuk menilai siapa pun orang yang kamu temui secara lebih positif. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi antara dirimu dengan orang-orang yang kamu temui, dan akan sangat berguna dalam proses menemukan dan pendekatan dengan pasangan. Tidak adil bukan jika semua orang menjadi tidak baik di matamu hanya karena kondisi emosional dirimu yang sebenarnya sedang buruk?
Kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik juga dapat secara tidak langsung membuatmu memancarkan nuansa positif bagi orang-orang di sekitarmu di mana pun kamu berada. Kalimat bahwa emosi itu menular dalam hal ini ada benarnya. Dengan demikian, orang-orang yang bertemu denganmu dalam kondisi diri yang positif cenderung akan secara timbal balik menilaimu secara lebih positif pula. Dan dalam kacamata hubungan interpersonal, kondisi ini meningkatkan kemungkinan dirimu akan diajak berkomunikasi dan berinteraksi oleh orang tersebut.
Nah, dengan menerapkan serangkaian tips-tips di atas, akan lebih mudah bagimu untuk menentukan bagaimana sebenarnya dirimu ingin bertemu dan diperlakukan oleh pasangan idealmu. Kamu juga lebih dapat fokus kepada pengembangan dirimu sendiri secara optimal. Sebaliknya, menerapkan tips-tips di atas juga secara tidak langsung membantu para calon pasanganmu untuk turut pula “menemukan” dirimu. Dalam hubungan interpersonal, sesuai dengan namanya, ia selalu merupakan suatu jalinan relasi timbal balik yang melibatkan dua belah pihak di dalamnya.

Penulis: Shahnaz Safitri, M.Psi., Psikolog (Konselor Kariib)
Editor: Diana Afifah (Tim Kariib)

Kariib adalah platform konseling online dan pendukung kesehatan mental bagi sahabat di seluruh Indonesia.
Untuk curhat atau konseling secara online dengan lebih dari 100 Psikolog kariib, kamu dapat klik link berikut (bit.ly/LineSahabatKariib) kemudian ketik “Buat Janji”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *