Masih Ragu ke Psikolog? Tulisan Ini Membuat Kamu Jadi Nggak Ragu Lagi

Seiring dengan meningkatnya kesadaran untuk menjaga kesehatan mental, semakin banyak pula orang yang terbuka dalam mencari bantuan profesional untuk menceritakan permasalahannya sekaligus mengoptimalkan kesehatan mental. Namun, ada pula yang masih terhambat mencari bantuan karena memiliki stigma atau keraguan terkait konseling dengan psikolog. Apakah kamu salah satunya? Jika iya, pendapat konselor Kariib mengenai pertanyaan umum yang muncul terkait konsultasi psikologi di bawah ini mungkin dapat memperjelas gambaranmu.

 

 

  • “Diapakan saja kita oleh psikolog?”

 

Psikolog akan mengajakmu untuk ngobrol ringan seputar keseharianmu. Setelah itu, psikolog akan menanyakan hal-hal terkait masalah yang membuatmu mencari bantuan lewat konseling. Tenang saja, kamu bisa lebih terbuka untuk cerita karena tidak ada jawaban benar atau salah seperti dalam ujian. Setelah mendapat gambaran mengenai masalah yang dihadapi, psikolog akan mengajakmu untuk berdiskusi menemukan solusi dari masalah tersebut. Saat ke psikolog, kamu tidak akan mendapatkan obat, karena obat-obatan adalah keahlian dari psikiater. Selain itu, psikolog juga tidak akan memberikan penilaian negatif, seperti mencap berdosa atau memandang sebelah mata.

-Berlian Damenia, M.Psi., Psikolog

 

 

  • “Masalahku terlalu sepele untuk ke psikolog.”

 

Dalam menghadapi masalah, setiap orang memiliki toleransi yang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada pengalaman yang sudah dilalui, pengetahuan yang dimiliki, dan berbagai faktor lainnya. Itulah mengapa, menceritakan masalahmu pada orang lain dapat membantumu mendapatkan sudut pandang yang baru dalam menentukan langkah penyelesaian masalah ke depan. Jika masalah yang kamu hadapi dirasa mengganggu, akan lebih baik jika kamu menceritakannya, khususnya kepada psikolog, yang dibekali dengan ilmu yang memang bertujuan untuk membantu orang-orang yang memiliki permasalahan sekalipun dirasa tidak berat. 

-Efika Fiona G., M.Psi., Psikolog

 

 

  • “Apakah aibku akan terbongkar jika cerita ke psikolog?”

 

Psikolog sudah terikat dalam kode etik untuk menjaga kerahasiaan klien-kliennya. Jadi, data berupa identitas dan deskripsi keluhan disimpan hanya untuk keperluan psikolog dan sangat dilarang untuk disebarluaskan kepada siapapun. Kalaupun data klien hendak digunakan untuk kepentingan ilmiah atau profesional, psikolog harus meminta persetujuan klien. Identitas klien juga harus disamarkan sehingga tidak bisa diterka oleh orang lain. Bila klien menemukan ada data yang disebarluaskan tanpa persetujuan, ia berhak melaporkan psikolog kepada Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Nantinya psikolog yg bersangkutan akan diadili, diberi konsekuensi, hingga pencabutan izin praktik.

-Firsta Andrina, M.Psi., Psikolog

 

 

  • “Aku laki-laki, jadi harus bisa menyelesaikan masalah sendiri.”

 

Pada dasarnya setiap manusia memiliki masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Kita membutuhkan masukan dari orang lain dengan cara curhat. Justru apabila seseorang tidak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain dan memilih untuk menyelesaikannya sendiri, akan terbentuk sifat yang egois, sok tahu, atau jarang memosisikan diri untuk mendapatkan masukan dari orang lain. Jadi, jika kamu memiliki masalah yang dirasa tidak dapat diselesaikan sendiri, baik laki-laki maupun perempuan, kamu berhak untuk menceritakan masalahmu kepada orang lain.

-Shahnaz Safitri, M.Psi., Psikolog

 

 

  • “Ah, curhat ke psikolog hanya mendapat nasihat.”

 

Pada dasarnya, psikolog merupakan profesi yang membantu orang lain untuk dapat lebih mengenali diri sendiri serta masalah yang dihadapi. Psikolog merupakan fasilitator yang membantu klien untuk dapat memutuskan solusi terbaik untuk diri mereka sendiri. Hal ini dilakukan dengan konseling, memberikan wawasan mengenai masalah, membantu melihat berbagai macam sudut pandang dari masalah yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya, serta potensi yang dimiliki klien untuk menghadapi masalah tersebut. Maka dari itu, beberapa orang mungkin merasa hanya diberikan nasihat tanpa solusi yang pasti. Namun, dengan pendekatan yang sudah dijelaskan, pada dasarnya psikolog berharap bahwa klien dapat lebih mampu menghadapi masalah yang ada secara mandiri dan lebih resilien. Dengan begitu, kamu sebagai klien dapat berkembang dan menjadi lebih oke dalam menghadapi masalah!

-Arina Megumi Budiani, M.Psi., Psikolog

 

 

  • “Gimana bisa cerita kalau aku tidak tahu masalahku?”

 

Yang paling penting untuk disampaikan adalah keluhan: apa keluhan yang sedang kamu rasakan dan sudah berapa lama hal itu berlangsung. Keluhan dapat bersifat fisik atau psikis. Psikolog akan mulai melakukan asesmen psikologis dari keluhan-keluhan yg kamu sampaikan, lalu melakukan wawancara mendalam untuk menemukan sumber masalah, keterkaitan satu kondisi dirimu dengan kondisi lainnya, dan dinamika masalah yang kamu hadapi. Hal ini akan dijelaskan untuk dikonfirmasi dan meningkatkan kesadaranmu (self-awareness) terkait apa yang sebenarnya terjadi.

-Rabi’atul Aprianti, M.Psi., Psikolog

 

 

  • “Apa yang harus saya bicarakan pertama kali saat ke psikolog?”

 

Sebenarnya sangat amat sederhana, berbincang dengan psikolog bisa disamakan seperti saat kita sedang berbincang dengan sahabat sendiri. Kamu bisa mulai dari awal saat kehidupanmu masih baik-baik saja sebelum menghadapi sebuah masalah. Lalu, kamu harus terbuka sepenuhnya, ceritakan masalah apa yang tengah kamu hadapi. Ceritakan pula bagaimana perasaanmu saat menghadapi masalah tersebut dan apa harapanmu kedepannya. Tidak perlu takut dan tidak perlu canggung. Ketahuilah bahwa sesungguhnya psikolog hadir bukan untuk mendikte, memaksa, apalagi menghukum, karena itu bukan kompetensi kami. Psikolog hadir sebagai sahabatmu.

-Darmawan Wicaksono, M.Psi., Psikolog

 

Bagaimana, Sahabat? Jika kamu masih memiliki pertanyaan yang mengganjal seputar curhat online dengan psikolog, kamu bisa tulis di kolom komentar, atau hubungi pihak Kariib, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *