Kenali Ciri-ciri Gangguan Kesehatan Mental

Dalam beberapa tahun terakhir, isu mengenai kesehatan mental semakin booming, gangguan mental tidak menjadi hal yang tabu lagi di dalam dunia digital. Sayangnya, sebagian banyak orang tidak menyaring dengan baik sumber dari informasi yang mereka peroleh sehingga menimbulkan persepsi atau pandangan yang tidak tepat tentang gangguan mental. Salah satu dampak yang besar adalah melakukan “self-diagnose”.

 

Secara sederhana, self-diagnose dapat diartikan sebagai suatu tindakan mendiagnosis diri sendiri mengalami suatu gangguan (mental) tertentu. Hal ini sering saya jumpai pada beberapa klien, ia sudah mendiagnosis bahwa ia mengalami gangguan tertentu sebelum menemui psikolog atau psikiater. Beberapa klien menceritakan bahwa ketika mereka mengalami suatu permasalahan dan keluhan, mereka mencoba untuk mencari informasi terkait di internet dan menemukan kemiripan dengan gejala suatu gangguan sehingga mereka mendiagnosis dirinya ke dalam suatu gangguan tertentu. 

 

Mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut sangat berbahaya. Sebuah artikel di psychologytoday.com memaparkan khusus tentang “The Dangers of Self-Diagnosis”, untuk lebih lengkapnya silakan baca artikelnya di sini.  

 

Lalu, dalam kondisi bagaimana seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan mental?

Mudah untuk mengingat tanda-tanda gangguan mental, ingat saja 4D.

 

 

  • Distress, yaitu ketika seseorang merasa mengalami tekanan psikologis, seperti merasa cemas, rasa bersalah, sedih, tidak berguna, tidak bersemangat, dan perasaan lain sejenisnya, dan kondisi tersebut sudah tidak mampu dikendalikan oleh diri sendiri dan menimbulkan permasalahan dalam aspek-aspek kehidupannya. Contoh: klien yang mengalami gangguan kecemasan social (social anxiety disorder), mereka tidak mampu mengendalikan kecemasannya ketika berada di tengah keramaian, dan merasa sangat tertekan jika berada dalam kondisi yang ramai.
 
  • Disability/Danger, yaitu ketika suatu permasalahan yang dialami dapat membahayakan diri sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Dengan kata lain permasalahan atau kondisi yang dialami sudah menimbulkan kerusakan, kelumpuhan, kecacatan, atau suatu permasalahan lain yang baru yang disebabkan oleh permasalahan tersebut. Contoh: klien yang mengalami gangguan depresi (depressive disorder) tidak dapat tidur, makan dengan teratur, dan melakukan self-care, sehingga dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan dirinya. Contoh lain ialah adanya ide-ide bunuh diri yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
  • Dysfunction, yaitu ketika seseorang sudah tidak mampu menjalankan fungsinya atau perannya dengan baik dalam aktivitas sehari-hari, seperti fungsi sosial, akademis, pekerjaan, dan fungsi lainya. Contoh: klien yang mengalami gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) sering mencemaskan hal-hal yang tidak penting dan sering tidak dapat berkonsentrasi sehingga fungsi akademis atau pekerjaannya menjadi terganggu.
  • Deviance, yaitu ketika seseorang melakukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial atau di luar batas kewajaran kebanyakan orang (pada waktu dan wilayah tertentu) sehingga perilaku tersebut dianggap aneh atau menyimpang. Contoh: kondisi halusinasi yang dialami oleh klien skizofrenia, mereka mendengar atau melihat apa yang tidak dilihat atau didengar oleh orang lain. Contoh lainnya ialah gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder) dan psychopathy yang kerap melakukan pelanggaran terhadap norma hukum dan sosial.

 

 

Lalu, apa yang harus kamu lakukan ketika merasa dirimu mengalami salah satu dari ciri-ciri tersebut? Berikut beberapa hal yang dapat Sahabat lakukan:

  1. Mencoba untuk menyelesaikan permasalahan sendiri dengan kemampuan yang dimiiliki, atau meminta bantuan orang-orang terdekat.
  2. Jika permasalahan tidak dapat terselesaikan, maka temui ahli seperti psikolog, psikiater atau dokter untuk berkonsultasi terkait keluhan yang dialami.
  3. Jika sulit mendapatkan waktu berkonsultasi secara tatap muka, maka dapat melakukan konseling online melalui live chat atau telepon untuk mendiskusikan kondisi yang sedang dialami agar dapat menemukan langkah yang tepat untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dialami.
  4. Setelah mendapatkan hasil yang akurat dari ahli, jalankan sesuai saran dan program yang telah dirancang untuk perubahan.
  5. Lakukan evaluasi!

 

Sahabat harus berhati-hati ketika mencari suatu informasi dan yang paling penting adalah menemukan sumber informasi yang tepat. Sahabat tidak bisa melakukan self-diagnose hanya dengan informasi yang diperoleh dari internet; para ahli seperti psikolog, psikiater dan dokter saja perlu melakukan suatu prosedur pemeriksaan untuk dapat memberikan diagnosis.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan para pembaca berkomitmen untuk tidak akan melakukan “self-diagnose”. Salam sehat dan bahagia. 😊

 


Penulis: Ayu Mandari, M.Psi., Psikolog (Psikolog Kariib)

Editor: Diana Afifah (Tim Kariib)


 

Kariib adalah platform konseling online dan pendukung kesehatan mental bagi sahabat di seluruh Indonesia.

Untuk curhat atau konseling secara online dengan lebih dari 100 Psikolog kariib, kamu dapat klik link berikut (bit.ly/LineSahabatKariib) kemudian ketik “Buat Janji”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *