Apakah self-diagnose itu baik?

Apakah itu Self-diagnose?

Self-diagnose adalah tindakan mengasumsikan pemberian diagnosis, mengidentifikasi kondisi kesehatan baik fisik maupun psikis terhadap diri sendiri, tanpa bantuan profesional seperti dokter dan psikolog. Dewasa ini, banyak ditemukan orang-orang yang melakukan diagnosis terhadap diri sendiri. Mudahnya mengakses informasi di internet juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan self-diagnose. Terutama dengan membaca dari berbagai tulisan yang disajikan internet mengenai daftar gejala yang dirasakan, menyocokkannya pada diri, dan menarik kesimpulan terhadap diri sendiri. Pada akhirnya seseorang mulai “menempelkan” diagnosis gangguan tertentu pada dirinya. Ia pun mulai memberitahukan kepada orang lain jika ada yang bertanya “Kamu sakit apa?”; “Kamu kenapa sebenarnya?”, maka orang tersebut pun menyebutkan gangguan atau sakit yang ia alami berdasarkan temuannya sendiri.

Bagi sebagian orang, membaca dan mencari tahu apa yang dirasakan atau dialami mungkin menghadirkan kepuasan tersendiri karena sudah berhasil mengulik masalah dan keluhan yang dirasakan. Namun, yang perlu dipahami adalah informasi mengenai gejala-gejala yang dipaparkan oleh tulisan di buku maupun di internet, belum tentu menjadi jawaban dari permasalahan. Bahkan mungkin sekali tejadi kesalahan diagnosis gangguan, atau mungkin juga ada diagnosis yang terlewatkan, underdiagnosis, dan overdiagnosis (Pillay, 2010).  Di sisi lain, self-diagnose juga sangat mungkin semakin memperparah kondisi keluhan dan gejala. Contohnya, jika seseorang mengeluhkan seringkali overthinking dan mengalami insomnia, lalu ia memberikan self-diagnose bahwa ia memiliki gangguan kecemasan. Tanpa disadari lambat-laun ia menjalani kehidupan seperti pasien dengan gangguan kecemasan, padahal gejala yang ia alami sebenarnya belum tentu memenuhi kriteria gangguan. Di lain waktu, misalnya saja ada seseorang yang merasa sedih dan kehilangan semangat bekerja. Lalu ia menemukan di internet bahwa gejala itu merupakan gejala depresi. Ia langsung mendiagnosa dirinya depresi dan menghayatinya sebagai pasien depresi, padahal belum tentu demikian. Hal penting yang perlu dipahami bahwa semua gejala tersebut sangat mungkin dialami umum oleh banyak orang. Namun, karena sudah melakukan self-diagnose, keluhan gejala tadi bisa saja membawa orang tersebut kekondisi yang lebih parah atau bahkan meniadakan dan melupakan bentuk gejala sakit fisik yang bisa saja jadi jauh lebih penting. Berawal dari riset kecil ala-ala inilah sebenarnya ada bahaya yang tidak disadari. Oleh karena itu, self-diagnosis bukanlah hal yang baik bahkan berbahaya bagi diri.

Bagaimana batasannya agar tidak salah mendiagnosa?

Diagnosis adalah label yang diberikan untuk penyakit atau masalah tertentu yang mungkin dimiliki oleh seseorang (Mental health, 2019). Mengidentifikasi diagnosis dilakukan berdasarkan gejalanya, yaitu keluhan yang disampaikan seseorang ketika mengunjungi psikolog atau dokter (Saleh, 2019). Untuk diagnosis kesehatan mental itu sendiri telah disusun dalam sebuah buku yang disebut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (atau disingkat DSM). Penting untuk diketahui bahwa beberapa gejala bisa melahirkan beragam diagnosis. Satu hingga tiga gejala yang dialami bisa saja sama dirasakan oleh beberapa orang dan bisa juga mendapatkan diagnosis yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, self-diagnose sangatlah tidak dianjurkan selain akan merugikan diri sendiri juga akan mendapatkan treatment yang salah atau tidak sesuai sehingga dapat memperparah kondisi.

  • Boleh dan sah-sah saja jika ingin mencari tahu gejala apa yang dialami di internet. Namun, ada batasan yang harus diketahui, yaitu hindari menarik kesimpulan dari asumsi yang diperoleh karena merasa bahwa apa yang diperoleh dari internet cukup mewakili gejala yang dirasakan pada diri, hendaknya kunjungi dan berdiskusi dengan profesional, contohnya psikolog.
  • Sampaikanlah dengan terbuka kepada psikolog mengenai apa yang kamu alami, rasakan, dan pikirkan. Psikolog akan mendengarkan dan membantu untuk memetakan permasalahan dan gejala yang kamu alami.
  • Berdasarkan apa yang sudah kamu sampaikan dan diskusikan dalam konseling akan membantu psikolog untuk menetapkan diagnosis. Bila diperlukan, sangat memungkinkan juga diberikan tes psikologi untuk mengecek keluhan dan gejala yang dialami.
  • Tindakan selanjutnya adalah psikolog akan membuat rangkaian intervensi yang sesuai dengan diagnosis dari keluhan atau gejala yang kamu rasakan sehingga ke depannya akan membantu kamu untuk mencapai kondisi yang baik dan adaptif.

Referensi:

Mental health. (2019). Diagnosis vs Self-diagnosis. Ditelusuri pada 2 September 2019 dari https://www.mentalhelp.net/self-help/diagnosis-vs-self-diagnosis/

Pillay, S. (2010, 3 Mei). The Danger of Self-Diagnosis. Ditelusuri pada 30 Agustus 2019 dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/debunking-myths-the-mind/201005/the-dangers-self-diagnosis

Saleh, N. (2019). The Risks of Using the Internet to Self-Diagnose Self-diagnosers are considered ‘challenging’ by physicians. Ditelusuri pada 29 Agustus 2019 dari https://www.verywellhealth.com/perils-of-using-the-internet-to-self-diagnose-4117449

 


Penulis: Patricia Yuannita T., M.Psi., Psikolog (Psikolog Kariib)


Kariib adalah platform konseling online dan pendukung kesehatan mental bagi sahabat di seluruh Indonesia.

Untuk curhat atau konseling secara online dengan lebih dari 100 Psikolog kariib, kamu dapat klik link berikut (bit.ly/LineSahabatKariib) kemudian ketik “Buat Janji”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *